Selasa, 25 Februari 2014

Meletusnya Tambora

Misteri dan Kronologi Meletusnya Tambora, Tiga Kerajaan Lenyap Seketika!

Mount Tambora volcano, Sumbawa, Indonesia
Gunung Tambora, Pulau Sumbawa Indonesia
Letusan Terakhir                       : Start, 10 April 1815 – Erupt, 17 April 1815.
Muntahkan Magma                   : 100 km³.
Lepasan abu (kubik)                 : 400 km³ debu ke angkasa.
Tinggi abu                                    : 44 km dari permukaan tanah.
Lontaran abu                              : 1300km.
Radius suara letusan                : 2600 km
Endapan aliran piroklastik  : 7-20m
Tsunami sepanjang pantai  : sejauh 1200km, tinggi 1-4m, di Maluku Tsunami hingga 2 meter
Korban letusan langsung      : 117.000 korban jiwa.
Kerajaan yang lenyap akibat letusan: Kerajaan Tambora, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar.
Foto illustrasi
Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia.
Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Sejarah Letusan
Dengan menggunakan teknik penanggalan radiokarbon, dinyatakan bahwa gunung Tambora telah meletus tiga kali sebelum letusan tahun 1815, tetapi besarnya letusan tidak diketahui.
Perkiraan ketiga letusannya pada tahun:
- Letusan pertama: 39910 sebelum masehi ± 200 tahun
- Letusan kedua: 3050 sebelum masehi
- Letusan ketiga: 740 ± 150 tahun.
Ketiga letusan tersebut memiliki karakteristik letusan yang sama. Masing-masing letusan memiliki letusan di lubang utama, tetapi terdapat pengecualian untuk letusan ketiga.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c6/Greenland_sulfate.png
Jumlah konsentrasi sulfat di inti es dari Tanah Hijau tengah, tarikh tahun dihitung dengan variasi isotop oksigen musiman. Terdapat letusan yang tidak diketahui pada tahun 1810-an. Sumber: Dai (1991 / wikimedia.org)
Namun pada letusan ketiga, tidak terdapat aliran piroklastik.
Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi lebih aktif, dengan puncak letusannya terjadi pada bulan April tahun 1815.
Besar letusan ini masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 × 1011 meter kubik.
Karakteristik letusannya termasuk letusan di lubang utama, aliran piroklastik, korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami dan runtuhnya kaldera.
Letusan ketiga ini mempengaruhi iklim global dalam waktu yang lama. Aktivitas Tambora setelah letusan tersebut baru berhenti pada tanggal 15 Juli 1815.
Pada saat letusan terjadi, beberapa orang Belanda yang berada di Surabaya mencatat dalam buku hariannya mengaku mendengar letusan tersebut, juga beberapa orang di benua Australia bagian Barat Laut.
Mereka mengira itu hanyalah suara gemuruh guntur karena tiba-tiba muncul awan mendung yang membuat redupnya sinar matahari.
Tambora caldera (indonesiaarchipelago.com)
Namun mereka tidak yakin karena yang mereka yakini awan, ternyata adalah asap dan debu vulkanis.
Dan yang turun ke bumi bukanlah air melainkan debu dan kerikil kecil!
Letusan Gunung Tambora merupakan letusan gunung terdahsyat sepanjang masa yang pernah tercatat pada era modern.
Pada saat gunung Tambora meletus, daerah radius kurang lebih 600 km dari gunung Tambora gelap gulita sepanjang hari hampir seminggu lamanya.
Letusan yang terdengar, melebihi jarak 2000 km dan suhu Bumi menurun hingga beberapa derajat yg mengakibatkan bumi menjadi dingin akibat sinar matahari terhalang debu vulkanis selama beberapa bulan.
Letusan Tambora (ilustrasi lukisan kuno)
Sehingga berdampak juga ke daerah Eropa & Amerika Utara mengalami musim dingin yg panjang.
Sedangkan Australia dan daerah Afrika Selatan turun salju di saat musim panas.
Peristiwa ini dikenal dengan “The year without summer” atau tahun tanpa musim panas.
Aktivitas selanjutnya kemudian terjadi pada bulan Agustus tahun 1819 dengan adanya letusan-letusan kecil dengan api dan bunyi gemuruh disertai gempa susulan yang dianggap sebagai bagian dari letusan tahun 1815.
Letusan ini masuk dalam skala kedua pada skala VEI.
Sekitar tahun 1880 (± 30 tahun), Tambora kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera. Letusan ini membuat aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava, yang kemudian membentuk kawah baru bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.
letusan Tambora dalam lukisan (meteoweb.eu)
Gunung Tambora masih berstatus aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad ke-20.
Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967, yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.
Total volume yang dikeluarkan Gunung Tambora saat meletus hebat hampir 200 tahun silam mencapai 150 kilometer kubik atau 150 miliar meter kubik. Deposit jatuhan abu yang terekam hingga sejauh 1.300 kilometer dari sumbernya.
Peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Igan Supriatman Sutawidjaja, dalam tulisannya, ”Characterization of Volcanic Deposits and Geoarchaeological Studies from the 1815 Eruption of Tambora Volcano”, menyebutkan, distribusi awan panas diperkirakan mencapai area 820 kilometer persegi.
Kaldera gunung Tambora (indonesiaarchipelago.com)
Jumlah total gabungan awan panas (piroklastik) dan batuan totalnya 874 kilometer persegi. Ketebalan awan panas rata-rata 7 meter, tetapi ada yang mencapai 20 meter.
Ahli botani Belanda, Junghuhn, dalam ”The Eruption of G Tambora in 1815”, menulis, empat tahun setelah letusan, sejauh mata memandang adalah batu apung.
Pelayaran terhambat oleh batuan apung berukuran besar yang memenuhi lautan. Segala yang hidup telah punah. Bumi begitu mengerikan dan kosong.
Junghuhn membuat deskripsi itu berdasarkan laporan Disterdijk yang datang ke Tambora pada 16 agustus 1819 bersama The Dutch Residence of Bima. Letusan Tambora memang dahsyat, bahkan terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah manusia modern.
Magnitudo letusan Tambora, berdasarkan Volcanic Explosivity Index (VEI), berada pada skala 7 dari 8, hanya kalah dari letusan Gunung Toba (Sumatera Utara), sekitar 74.000 tahun lalu, yang berada pada skala 8.
Artifak peninggalan penduduk asli kerajaan Tambora yang ikut terkubur abu vulkanik (newswise.com)
Letusan gunung Tambora juga tercatat sebagai letusan gunung yang paling mematikan.
Jumlah korban tewas akibat gunung ini sedikitnya mencapai 71.000 jiwa tapi sebagian ahli menyebut angka 91.000 jiwa.
Sebanyak 10.000 orang tewas secara langsung akibat letusan dan sisanya karena bencana kelaparan dan penyakit yang mendera.
Jumlah ini belum termasuk kematian yang terjadi di negara-negara lain, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, yang didera bencana kelaparan akibat abu vulkanis Tambora yang menyebabkan tahun tanpa musim panas di dua benua itu.
Bahkan di Eropa, Napoleon Bonaparte kalah perang karena efek dari gunung Tambora ini.
Berikut ringkasan laporan kesaksian saat letusan Gunung Tambora terjadi, yang disarikan dari ”Transactions of the Batavian Society” Vol VIII, 1816, dan dan ”The Asiatic Journal” Vol II, Desember 1816.
Selama enam minggu arkeolog menggali telah menemukan sisa dua mangkok untuk orang dewasa berbahan perunggu, pot keramik, peralatan dari besi dan artifak lainnya. Desain dan dekorasi dari artefak menunjukkan bahwa budaya Tamboran (orang Tambora) terkait dengan budaya orang Vietnam dan orang Kamboja. (Image: URI News Bureau)
Sumanap (Sumenep), 10 April 1815
Sore hari tanggal 10, ledakan menjadi sangat keras, salah satu ledakan bahkan mengguncang kota, laksana tembakan meriam.
Menjelang sore keesokan harinya, atmosfer begitu tebal sehingga harus menggunakan lilin pada pukul 16.00.
Pada pukul 19.00 tanggal 11, arus air surut, disusul air deras dari teluk, menyebabkan air sungai naik hingga 4 kaki dan kemudian surut kembali dalam waktu empat menit.
Baniowangie (Banyuwangi), 10 April 1815
Pada tanggal 10 April malam, ledakan semakin sering mengguncang bumi dan laut dengan kejamnya. Menjelang pagi, ledakan itu berkurang dan terus berkurang secara perlahan hingga akhirnya benar-benar berhenti pada tanggal 14.
Fort Marlboro (Bengkulu), 11 April 1815
Suaranya terdengar oleh beberapa orang di permukiman ini pada pagi hari tanggal 11 April 1815.
Beberapa pemimpin melaporkan adanya serangan senjata api yang terus-menerus sejak fajar merekah. Orang-orang dikirim untuk penyelidikan, tetapi tidak menemukan apa pun.
Suara yang sama juga terdengar di wilayah-wilayah Saloomah, Manna, Paddang, Moco-moco, dan wilayah lain. Seorang asing yang tinggal di Teluk Semanco menulis, sebelum tanggal 11 April 1815 terdengar tembakan meriam sepanjang hari.
Tambora explosion 1815
Besookie (Besuki, Jawa Timur), 11 April 1815
Kami terbungkus kegelapan pada 11 April sejak pukul 16.00 sampai pukul 14.00 pada 12 April. Tanah tertutup debu setebal 2 inci.
Kejadian yang sama juga terjadi di Probolinggo dan Panarukan, terus sampai di Bangeewangee (Banyuwangi) tertutup debu setebal 10-12 inci. Lautan bahkan lebih parah akibat dari letusan tersebut. Suara letusan terdengar sampai sejauh 600-700 mil.
Grissie (Gresik, Jawa Timur), 12 April 1815
Pukul 09.00, tidak ada cahaya pagi. Lapisan abu tebal di teras menutupi pintu rumah di Kradenan. Pukul 11.00 terpaksa sarapan dengan cahaya lilin, burung-burung mulai berkicau mendekati siang hari.
Dua ilmuwan sedang menyelidiki bekas-bekas peradaban yang telah lenyap di dekat gunung Tambora.
Jam 11.30 mulai terlihat cahaya matahari menerobos awan abu tebal. Pukul 05.00 sudah semakin terang, tetapi masih tidak bisa membaca atau menulis tanpa cahaya lilin.
Tidak ada seorang yang ingat ataupun tercatat dalam tradisi erupsi yang sedemikian besar.
Ada yang melihat kejadian itu sebagai transisi kembalinya pemerintahan yang lama.
Lainnya melihat kejadian itu dari sisi takhayul dan legenda bahwa sedang ada perayaan pernikahan Nyai Loro Kidul (Ratu Kidul) yang tengah mengawini salah satu anaknya.
Maka dia tengah menembakkan artileri supernaturalnya sebagai penghormatan. Warga menyebut abu yang jatuh berasal dari amunisi Nyai Loro Kidul.
Situs peradaban Tambora
Makasar, 12-15 April 1815
Tanggal 12-15 April udara masih tipis dan berdebu, sinar matahari pun masih terhalang.
Dengan sedikit dan terkadang tidak ada angin sama sekali. Pagi hari tanggal 15 April, kami berlayar dari Makassar dengan sedikit angin.
Di atas laut terapung batu-batu apung, dan air pun tertutup debu. Di sepanjang pantai, pasir terlihat bercampur dengan batu-batu berwarna hitam, pohon-pohon tumbang. Perahu sangat sulit menembus Teluk Bima karena laut benar-benar tertutup.
Heinrich Zollinger, Peneliti Pertama Penyingkap Gunung Tambora 1847
Heinrich Zollinger merupakan peneliti yang berjejak pertama kalinya di Tambora usai gunung itu menunjukkan amarahnya. Zollinger menyambanginya pada 1847 atau 32 tahun setelah letusan mahadahsyat yang berdampak pada perubahan iklim dunia.
Dia mendaki dan memanjat reruntuhan tebing ketika Tambora masih hangat berselimut kepulan asap yang menyeruak ke angkasa.
Heinrich Zollinger-peneliti-pertama-penyingkap-gunung-tambora-1847
Patung dada Heinrich Zollinger yang dikenang di Botanischer Garten Zürich (Roland zh/Wikimedia Commons)
Zollinger merupakan ahli botani asal Swiss yang ditunjuk Kerajaan Belanda sebagai kolektor tanaman resmi di negeri kepulauan Hindia Belanda pada 1842.
Tugasnya melakukan ekspedisi ilmu pengetahuan yang dibiayai oleh pemerintah. Kediamannya di sebuah vila pedesaan Tjikoja—kini Cikuya—Karesidenan Banten.
Awalnya dia mengumpulkan data tetumbuhan di lingkungan wilayah Banten dan Buitenzorg—kini Bogor. Dia merambahi dari kawasan Pantai Anyer, Kota Tangerang, sampai lembah dan gunung, termasuk Gede-Pangrango, Salak, dan Tangkubanperahu.
Tahun berikutnya dia merambahi kediaman dewa gunung di Penanggungan, Semeru, Arjuna dan gunung-gunung di Jawa Timur lainnya.
Pada 1844 Zollinger mencatat keberhasilan berada di puncak Gunung Welirang, salah satu menara kembar di Jawa.
Koleksi prospektus tumbuhan yang dikumpulkan Zollinger, salah satunya, dikirim ke Profesor Alexander Moritzi, naturalis asal Swis yang bekerja di Solothurn, Swis. Moritzi kelak membantunya dalam hal penamaan, penomoran, dan distribusi.
Tambora dalam lukisan tua (wellhome.com)
Pada 1847, petualangannya sampai ke Sumbawa. Tujuan Zollinger adalah mempelajari letusan masa silam Tambora yang berdampak pada keseimbangan alam setempat dan pemulihannya.
Zollinger merayapi lereng hingga mencapai bibir kalderanya di ketinggian sekitar 2.851 meter.
Menurutnya, sebelum letusan mahadahsyat pada 1815, tinggi Tambora mencapai hampir 4.000 meter!
Zollinger pulang ke Swiss pada 1847, kemudian dia menjabat direktur sekolah seminari di Kussnacht, Swis. Baru pada 1855 dia kembali ke Jawa sebagai seorang ahli botani independen dan kolektor tanaman. Ekspedisi kedua di Hindia Belanda pun dimulai.
Biaya perjalanan ke pelosok Hindia diperolehnya lewat kiriman prospektus herbarium kepada para ilmuwan di Eropa. Selain mendapatkan uang jasa atas kirimannya, Zollinger juga mendapat perlindungan selama perjalanannya berupa asuransi jiwa.
Kawah Tambora saat ini, diameter 6,5 – 7 km, dalam 1-1,2 km
Zollinger dikenal sebagai penulis berbagai jurnal dan publikasi ilmiah. Dia banyak menemukan spesies tanaman langka, yang sebagian merupakan spesies baru. Banyak pemikirannya telah mengalir dari ujung tinta, antara lain bidang geologi, meteorologi, moluska di Pulau Rakata, taksonomi tumbuhan, dan beberapa hal yang terkait tentang vegetasi di Hindia Belanda.
Koleksi herbariumnya telah tersebar di berbagai herbarium di Swiss dan Prancis. Namun, koleksi utamanya kini disimpan di Nationaal Herbarium Nederland di Universiteit Leiden dan Utrecht.
Zollinger demam hebat saat melakukan ekspedisi di Kandangan, sebuah desa di lereng tenggara Gunung Tengger, Jawa Timur. Dia tarjangkit malaria —salah satu ancaman terbesar penjelajah abad ke-19—kemudian tewas di desa tersebut pada 19 Mei 1859. Ketika itu usianya 41 tahun.
Perbandingan letusan gunung Tambora dengan gunung Toba supervolcano
Kini, namanya dikenang dalam sebuah plakat di Botanischer Garten Zürich (Kebun Botani Zurich), Swis. Beberapa nama tumbuhan di Indonesia mengabadikan namanya.
Sebagai contoh, dua dari seratusan tanaman obat yang digunakan penduduk sekitar kawasan Halimun-Salak adalah Flacourtia rukam Zollinger & Moritzi dan Schismatoglottis rupstris Zollinger & Moritzi.
Dalam penjelajahannya sekitar sepuluh tahun di Hindia Belanda,  Zollinger telah memberikan lebih dari 270 spesimen.
Lebih dari 20 spesies tanaman, rumput laut dan jamur menggunakan nama “zollingerii” sebagai bagian penamaan Latin. Sebuah sumbangan besar dan bermanfaat kepada ilmu pengetahuan. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Peta gunung api aktif di Indonesia

3 Gunung di Indonesia dengan Letusan Super Dahsyat

Dalam rentang ribuan tahun, Indonesia tercatat mengalami lima kali erupsi gunung berapi yang sangat dahsyat, yang akibatnya tak hanya dirasakan oleh penduduk di sekitar gunung itu, tapi juga oleh seluruh masyarakat Indonesia dan sebagian besar penduduk dunia. Ini terjadi karena Indonesia berada pada posisi pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Lempeng Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Dari pertemuan tiga lempeng tersebut, 80% wilayah Indonesia berada di Lempeng Eurasia. Wilayah ini meliputi Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Banda.

Inilah lima erupsi gunung berapi paling dahsyat di Indonesia.

Tiga Letusan Gunung Toba

Gunung ini merupakan sebuah supervolcano, sama seperti Yellowstones di Amerika Serikat. Data menyebutkan, Toba telah tiga kali meletus. Pertama pada sekitar 800.000 tahun lalu yang menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, yang meliputi daerah Prapat dan Porsea. Kedua pada 500.000 tahun lalu yang membentuk membentuk kaldera di utara Danau Toba, tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dan ketiga yang merupakan letusan paling dahsyat, sekitar 74.000 tahun lalu, dan menghasilkan kaldera baru yang saat ini kita kenal dengan nama Danau Toba dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Gunung Toba digolongkan Supervolcano karena memiliki kantong magma yang sangat besar, sehingga jika meletus akan menghasilkan kaldera yang sangat besar, mencapai puluhan kilometer. Berbeda dengan gunung api biasa yang hanya melahirkan kaldera berukuran ratusan meter jika meletus.

Indikasi bahwa Toba meletus dengan sangat dahsyat diketahui berdasarkan penemuan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan di India Tengah. Selain itu, sejumlah ahli kelautan juga melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Hingga kini Toba masih aktif.

Letusan Tambora pada pada 1815

Gunung Tambora di Pulau Sumbawa (masyarakat setempat menyebutnya Gunung Tamboro) berdiri kokoh di dua kabupaten, yakni Kabupaten Dompu dan Bima. Gunung ini memiliki ketinggian 4.300 meter dari permukaan laut (dpl), dan sebelum meletus merupakan gunung tertinggi di Nusantara.

Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya dan merupakan sebuah stratovulcano aktif. Ketika meletus pada April 1815, ledakannya mencapai skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Suara gelegar letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatera yang berjarak lebih dari 2.000 km, dan abu vulkaniknya tak hanya jatuh di Pulau Sumbawa, tapi juga di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Debu, awan panas, dan guncangannya melenyapkan hampir semua desa di kaki gunung itu, dan sedikitnya 12.000 orang tewas.


Yang lebih dahsyat, abu vulkanik yang dimuntahkannya menutupi langit, sehingga Matahari tak dapat menyinari Bumi, dan iklim dunia berubah. Hingga 1816, benua Eropa dan Amerika Utara tidak merasakan hangatnya sinar matahari, sehingga tahun itu dijuluki sebagai Tahun Tanpa Musim Panas. Panen pun gagal, dan di belahan bumi utara, ternak-ternak banyak yang mati. Bencana kelaparan terjadi dimana-mana, dan dianggap yang terburuk pada abad 19. 

Ketika tim arkeologi menggali lokasi di sekitar Tambora pada 2004, pada kedalaman 3 meter ditemukan bekas-bekas kehidupan. Mirip dengan apa yang ditemukan tim arkeolog ketika menggali kota Pompeii yang dikubur letusun Gunung Vesivius pada 78 SM. Itu sebabnya penemuan di sekitar Tambora sering disebut sebagai Pompeii dari Timur.

Letusan Krakatau Pada 1883

Krakatau merupakan sebuah kepulauan vulkanik aktif di Selat Sunda, antara pulau Jawa dan Sumatera. Pada 26-27 Agustus 1883, gunung ini meletus dengan sangat dahsyat dengan tak hanya memuntahkan abu vulkanik, namun juga awan panas yang mampu menyebarangi Selat Sunda, dan memicu terjadinya tsunami paling hebat di Samudera Hindia. Sekitar 36.417 orang yang bermukim di 295 kampung di sepanjang pantai Pulau Sumatera dan Jawa, dari Merak (Serang) hingga Cilamaya (Karawang); dari pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon); dan di sepanjang pesisir Sumatera bagian selatan, tewas. Di Ujungkulon, air bah masuk hingga 15 km ke arah barat. Sehari setelah gunung itu meletus hingga beberapa hari selanjutnya, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7.000 km.

Suara ledakan gunung ini terdengar hingga Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika yang berjarak 4.653 km dari Selat Sunda. Daya ledak gunung ini diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Letusan gunung ini juga menyebabkan perubahan iklim global, karena abu vulkanisnya menutupi langit, dan menyebar hingga Norwegia dan New York, sehingga sinar Matahari tak mampu menyentuh bumi dan dunia gelap selama dua setengah hari. Bahkan hingga 1884, Matahari hanya mampu bersinar dengan redup. Letusan ini juga membuat tiga perempat tubuh Krakatau hancur, dan yang tersisa hanya sebuah kaldera (kawah besar).

thanks

Rainbow Mountain, Gunung Pelangi Indah di China

Ingin tau dimana ujungnya pelangi ?
Coba kamu kunjungi Rainbow Mountain di Zhangye Danxia Landform Geological Park.


Jika umumnya pelangi hanya seusai hujan dan di langit saja, kini kalian bisa menikmati nuansa warna-warni pelangi di sepanjang pegunungan China, tepatnya di Zhangye Danxia Landform Geological Park.
Disini mata kalian akan dimanjakan dengan keajaiban Tuhan yang luar biasa, berbagai warna menarik menyatu dan membentuk garisan di pegunungan dengan sangat nyata dan indah.


Dikutip dari laman Huffington Post, masyarakat China setempat memberi nama gunung tersebut dengan sebutan Rainbow Mountain. Tidak seperti pelangi yang hanya bisa dinikmati beberapa saat saja, pemandangan luar biasa dengan warna-warni pelangi ini dapat kalian nikmati selamanya lho.


Rainbow Mountain terbentuk sekitar 24 juta tahun lalu, gunung spektakuler ini terdiri dari berbagai bebatuan vulkanik dan mineral. Akibat gempa tektonik, maka terbentuklah cekungan serta bukit yang bertubi-tubi. Akan tetapi, tidak dijelaskan mengapa fenomena alam ini bisa membuat gunung berwarna-warni tanpa adanya manipulasi.


Rainbow Mountain telah terdaftar di UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia pada tahun 2010 karena keunikannya yang mendunia. Selain terkenal dengan wisata Tembok Besar China, lokasi Rainbow Mountain juga bisa dijadikan tujuan utama para wisatawan saat berlibur ke China.


Untuk dapat menikmati pemandangan Rainbow Mountain, pengunjung bisa menaiki bukit khusus dengan anak tangga dan jalan setapak yang disediakan.

Kamis, 13 Februari 2014

Bahaya Mouthwase Untuk Kesehatan Mulut Dan Gigi

Mengetahui Bahaya Mouthwase Untuk Kesehatan Mulut Dan Gigi

Bahaya Mouthwase Untuk Kesehatan Mulut Dan Gigi mungkin tidak disadari oleh banyak orang. Dalam langkah-langkah membersihkan mulut dan gigi, salah satu anjurannya adalah berkumur dengan antiseptik atau pun mouthwash. Akan tetapi, kita harus memeriksa kandungan dalam mouthwash yang akan digunakan untuk berkumur setelah sikat gigi. Ini dikarenakan ada beberapa bahan dalam mouthwash berefek merusak gigi dan gusi. Bahan yang dimaksud tersebut adalah kandungan alkohol di dalam mouthwash. Banyak produk mouthwash yang memiliki kandungan alkohol hingga 26 persen. Kandungan yang cukup banyak untuk ukuran produk pembersih mulut. Memang, alkohol  memiliki peran untuk memaksimalkan fungsi menthol, thymol, dan eucalyptol dalam menembus lapisan gigi bagian luar serta menghilangkan plak. Secara kasar, kandungan alkohol tersebut memang tidak membahayakan. Akan tetapi, kandungan ini bisa membuat mulut kering karena menghilangkan suatu zat yang berfungsi menjaga agar mulut selalu basah dan lembab. Sehingga, mulut yang kering dapat menyebabkan bau nafas yang tidak sedap serta rasa tidak enak jika berkumur.

Apa lagi Bahaya Mouthwase Untuk Kesehatan Mulut Dan Gigi?

Bahkan, penelitian yang paling baru menyimpulkan bahwa meningkatnya risiko kanker mulut disebut-sebut disebabkan oleh kandungan alkohol dalam mouthwash. Dalam penelitian dengan isu yang sama menyatakan bahwa kandungan etanol dalam mouthwash dapat menimbulkan meningkatnya zat berbahaya yang memiliki kemampuan untuk menembus dengan mudah ke sekitar mulut. Selain itu, asetaldehida yang merupakan racun dalam alkohol dapat berkumpul di dalam mulut. Ada juga zat kimia yang disebut chlorohexidine gluconate. Zat kimia dalam produk mouthwash ini dapat menimbulkan noda pada gigi. Sebenarnya chlorohexidine gluconate ini berperan memiliki peran untuk menyingkirkan plak serta mengurangi bakteri. Akan tetapi, zat ini berefek buruk yakni menyebabkan bau mulut yang tak sedap dan noda. Terlebih lagi, jika terus menerus digunakan, enamel gigi dapat bernoda kecokelatan disebabkan oleh reaksi kimia.

Bagaimana cara mengatasinya?

Sekarang pertanyaannya adalah apa kita harus menghindari pemakaian mouthwash? Sedangkan di sisi lain kita juga dianjurkan menggunakannya karena fungsinya untuk menghilangkan plak pada gigi. Tenang saja, kita masih dapat menggunakan mouthwash dengan sebuah catatan. Saat mencari mouthwash, kita harus memilih yang tidak mengandung alkohol. Biasanya kita dapat mengetahuinya dengan melihat apakah ada label “alcohol free” atau sejenisnya. Jika ada, maka mouthwash tersebut tidak mengandung alkohol. Mouthwash tersebut akan memiliki khasiat yang seharusnya karena tidak akan menyebabkan mulut menjadi kering serta mengurangi noda cokelat pada gigi. Dengan begitu, kita dapat menghindari bahaya mouthwase untuk kesehatan mulut dan gigi

Sepuluh Penemuan Aneh Sepanjang Tahun 2012

10. Katak Terkecil di Dunia
Katak dengan nama latin Paedophryne amauensis dan memiliki panjang 7,7 milimeter ini diklaim sebagai hewan vertebrata terkecil di dunia. Katak seukuran lalat ini memecahkan hewan vertebrata terkecil sebelumnya yakni ikan Paedocypris progenetica dengan ukuran 7,9 milimeter. Ilmuwan menemukan katak ini saat melakukan penelitian di Papua Nugini.

9. Lendir, Jamur Bersel Tunggal Pemilik Memori
Ilmuwan dari Universitas Sydney dalam studi terbarunya yang diterbitkan jurnal Proceedings of the National Academies of Science menyatakan, makhluk bersel tunggal, Physarum polycephalum, tidak memiliki sistem saraf (otak) namun dapat merekam memori. Ahli biologi, Chris Reid mengungkapkan dengan meninggalkan jejak lendir, Physarum polycephalum bisa mengetahui ke mana saja mereka sudah singgah.

kucing,venusVenus, kucing dengan keunikan dua warna wajah dan mata. (NGM/Today Show/NBC).

8. Kucing Unik dengan 2 Wajah dan 2 Warna Mata
Venus, kucing yang memiliki dua warna kontras di wajahnya dan juga memiliki warna yang berbeda di kedua matanya.
Setengah wajahnya berwarna hitam legam dengan mata berwarna hijau. Sebagian lagi wajahnya berwarna kuning kecoklatan dengan mata berwarna biru. Karena keunikan yang dimilikinya, Venus menjadi kucing yang paling populer di planet ini.

7. Paus Putih Pembunuh
Paus putih dewasa terlihat berkeliaran di lepas pantai Rusia pada bulan April lalu. Paus Putih yang diberi nama "Iceberg" ini memiliki panjang kurang lebih tujuh meter diklaim sebagai satu-satunya di dunia. Para ilmuwan mengatakan paus putih ini belum tentu mengidap albino karena ia memiliki warna di pelananya yakni di bagian belakang sirip punggungnya.
Kondisi genetik yang unik pada Iceberg dikarenakan menderita Chediak-Higashi sindrom, yaitu sindrom penyakit langka dari sistem kekebalan tubuh dan saraf yang mempengaruhi pewarnaan.

6. Hewan dengan Kaki Terbanyak
Hewan dengan kaki terbanyak, Illacme plenipes, ditemukan di California, Amerika Serikat. Hewan ini memiliki panjang 1,2 inchi milipede dengan 750 kaki. Hewan ini dulu pertama kali ditemukan pada 1928 kemudian dianggap sebagai spesies punah.
Hewan kaki seribu kebanyakan hanya memiliki 80 hingga 100 kaki. Namun, Illacme plenipes dengan permukaan kulit yang diselimuti oleh rambut panjang yang menutupi punggungnya, memiliki kurang lebih 750 kaki untuk betina dan 550 kaki bagi jantan.

kurakura tempurung lunak cina,pelodiscus sinensisKura-kura tempurung lunak cina (Pelodiscus sinensis). Hewan pertama yang diketahui mengeluarkan urine lewat mulut. (FLPA/Alamy/National Geographic News).

5. Kura-Kura Keluarkan Urin Lewat Mulut
Melalui Journal of Experimental Biology para ilmuwan mengungkpakan kasus yang baru pertama kali terjadi pada hewan, yakni kura-kura tempurung lunak cina (Pelodiscus sinensis ) mengeluarkan urin melalui mulut. Pelodiscus sinensis memasukkan kepala mereka ke dalam genangan air, kemudian menggoyangkan lidahnya.
Namun, mereka tidak meminum air tersebut. Ilmuwan baru mengetahui ternyata P.sinensis memiliki struktur yang mirip dengan insang di dalam mulutnya.
4. Singa Betina yang Menyerupai Singa Jantan
Singa betina terlihat seperti singa jantan terdapat dijumpai di Afrika. Singa betina yang maskulin ini kemungkinan terjadi karena embrio yang terganggu saat pembuahan atau saat berada dalam rahim.
Kasus ini terjadi ditengarai karena kontribusi genetik pada sperma yang menentukan jenis kelamin pada sebagian mamalia, mengalami kelainan. Sehingga menyebabkan singa betina dengan beberapa karakteristik jantan.

3. Ikan dengan Alat Kelamin di Kepala
Phallostethus cuulong merupakan ikan unik yang memiliki alat kelamin di kepalanya yang ditemukan di perairan sungai dangkal di Vietnam. Ikan ini merupakan ikan kecil dengan anatomi tubuh yang cukup kompleks.

2. Landak dengan Penis Aneh
Ketika Tim National Geographic Emerging Explorer, Lucy Cooke mengunujungi Tasmania, Australia tahun ini, tim menemukan ekidna yakni sejenis landak yang memiliki empat kepala penis. Bentuknya menyerupai ibu jari atau terlihat seperti anemon laut yang aneh.

bola mata,ikan todak,raksasaBola mata rakasasa yang ditemukan di Florida, AS, Oktober 2012. Mata ini ternyata diketahui sebagai mata ikan todak. (Carli Segelson/Fla. FWCC/National Geographic News).

1. Bola Mata Raksasa Ditemukan di Pantai Florida
Bola mata raksasa misterius seukuran bola softball berwarna biru terdampar di perairan Florida pada bulan Oktober. Beberapa bulan kemudian, Fish and Wildlife Conservation Commission melaporkan bahwa bola mata tersebut milik swordfish atau ikan todak. Bola mata raksasa ini dinobatkan menjadi penemuan teraneh sepanjang tahun 2012.
(Umi Rasmi. Sumber: National Geographic News)