Tidak
ada mahasiswa,politisi,pakar,ahi atau pembicara
dalam seminar-seminar yang tidak tahu apa itu demokrasi. Demokrasi adalah sistem politik
dalam kehidupan bernegara yang menitik beratkan pada kedaulatan rakyat.. Lantas pertanyaannya,baikkah
demokrasi itu?
Sekitar
2.5000 tahun yang lalu (abad kelima sebelum Masehi) sang teoritikus Aristoteles
dari Yunani Kuno sama sekali tidak mendukung demokrasi sebagai sistem politik
dalam kehidupan bernegara. Alasannya,demokrasi
itu sungguh menyesatkan karena menyerahkan pilihan haluan negara kepada
rakyak,padahal rakyat pada umumnya sangat awam dan tidak tahu apa-apa. Penyerahan pilihan itu dikatakan
menyesatkan karena sebagaian besar pilihan rakyat itu bersifat buta,tiba-tiba
atau transaksional dan tergantung pada siapa yang mau membayar.
Aristoteles
juga menyebutkan bahwa di dalam demokrasi terdapat banyak demagog,yaitu
agitator yang pandai membius rakyat dengan pidato-pidato dan janji-janji bohong. Dan para demagok hanya membangun
komunikasi secara intens dengan rakyat ketika menjelang pemilihan umum (pemilu),setelah itu menghilang. Di pesta rakyat (pemilu) inilah
para demagok biasanya mengumbar janji-janji akan mensejahterakan rakyat,peduli
akan nasib rakyat,menggratiskan pendidikan,jaminan kesehatan/pengobatan gratis
dan semua hal yang menyangkut rakyat asalkan dipilih dalam pemilihan. Namun setelah terpilih,apa yang
terjadi (?) mereka hanya diam dan tidak berbuat apa-apa sedikit pun bagi rakyat,malah
justru mengkhianati rakyat dengan mengeluarkan kebijakan dan regulasi yang
tidak di butuhkan oleh rakyat.
Tidak
lebih jika penulis mengatakan bahwa yang dikhawatirkan oleh Aristoteles telah dikonfirmasi oleh demokrasi kita di indonesia. Kini sudah bukan cerita asing jika
para demagog pada saat pemilu mereka dengan massif menebar janji-janji manis
kepada rakyat,padahal ketika menduduki kursi jabatan penting setelah terpilih
pada pemilu sebelumnya ternyata tidak memperbaiki apa pun.
Tidah
berhenti disitu,partai politik yang memiliki media audiovisual (TV) akan mudah
mengelabui dan mengambil hati rakyat.
Lewat
acara-acara di TV seperti adanya kuis berhadiah,bantuan-bantuan kepada
masyarakat,talk show dan berbagai macam iklan yang bermuara pada visi misi yang
di tawarkan oleh partai politik.
Padahal
itu hanyalah sebatas strategi yang tidak ada kelanjutannya dan itu janji-janji
kosong yang tidak terealisasi ketika terpilih sebagai pemenang pemilu.
Di
dalam demokrasi ada pemain-pemain politik baru yang akan meneriakkan berbagai
hal, mereka padahal tidak tahu betul problem dan cara penyelesaiannya. Tak jarang kemudian mereka akan
menghalalkan berbagai cara selama peroses pesta demokrasi berlangsung demi
menjulang suara sehingga cara-cara
instan pun di lakukan.
Pada
saat terpilih,tugasnya hanya duduk dan diam,tidak berani bersuara keras untuk
kepentingan masyarakat yang diwakilinya.
Pemain-pemain
politik baru megerahkan segala kemampuan
agar dikenal publik (rakyat). Mereka
harus bersaing dengan pemain-pemain politik lama yang dimana pengalaman dan
pengetahuannya tentang strategi-strategi politik lebih matang. Merasa sadar dengan hal
itu,pemain-pemain politik baru terpaksa memakai strategi jalan pintas,yaitu
serangan fajar yang notabennya
adalah “money politic”.
Penulis
yakin,bahwa kita melihat dan merasakan dinamika para calegndan vcalon kepala daerah
selama peroses politik/demokrasi dengan berbagai kesibukan. Mereka mendatangi rakyat di berbagai tempat. Tidak jarang mereka datang ke pasar tradisonal dan di
tempat-tempat lain sambil membawa gambar atau stiker dirinya dan dibagikan
kepada para pedagang dan masyarakat luas.
Tidak
hanya itu,mereka
juga jalan-jalan dari rumah ke rumah,kampung ke kampung dengan dalih
silaturrahim padahal itu dilakukan semata-mata untuk mendapatkan simpati dari
warga agar dipilih pada saat
pemilihan.
Demokrasi
kita juga banyak melahirkan orang-orang narsis,pengagum diri sendiri. Hal ini sudah terlihat ketika proses
politik berlangsung. Poster
atau gambar yang ada di spanduk dan baliho akan terpasang dimana-mana dengan
berbagai gaya. Mereka
tersenyum sembari di puji-puji sama keluarga masing-masing seakan-akan hanya
dialah yang paling amanah dan jujur dianta calon yang lain.
Karena
sasaran dari demokrasi kita adalah rakyat,maka apapun akan dilakukan demi mendapatkan
suara rakyat. Tidak
menjadi rahasia lagi jika para caleg,para
calon kepala daerah sampai calon presiden pun sangat membutuhkan suara terbanyak
agar bisa menduduki kursi jabatan dan posisi politik di indonesia,sehingga mereka
harus mengambil hati rakyat dan bisa mempengaruhi rakyat semaksimal mungkin
dengan cara sesuai peraturan perundang-undangan. Akan
tetapi melihat realita sekarang ini,banyak yang telah melanggar aturan yang
berlaku dan mereka membuat aturan-aturan sendiri alias menghalalkan segala
cara.
Secara
implisit, melihat fenomena di atas tampaknya demokrasi kita sudah membentuk
yang dinamakan “politik
biaya tinggi”
dalam sistem politik indonesia. Hal
inilah yang terjadi dan harus dihadapi
oleh siapapun yang ingin meraih jabatan dan posisi politik di indonesia.
Para
calon legislatif dan para
calon kepala daerah mau tidak mau harus mengerahkan semua asset dan modal yang
besar untuk mengikuti proses politik.
Mereka
harus memutar otak untuk memperoleh modal yang besar dari menjual asset sendiri
seperti menjual tanah,menjual rumah,mobil dan berhutang dimana-mana.
Persoalan muncul kemudian adalah tak jarang kita
mendengar bahwa bagi yang gagal dalam pertarungan,banyak sekali yang kehilangan
akal sehat alias menjadi gila dan akhirnya masuk ke rumah
sakit
jiwa.
Bagi yang menang dalam pertarungan bukannya tidak
mempunyai problem,akan tetapi lebih seram lagi karena memutar otak untuk saatnya mencari untung
atau minimal balek modal. Sehingga jalan
yang paling dianggap cepat yaitu “korupsi” dengan berbagai intstumen
dan berbagai modus.
Setelah
terpilih,korupsi menjadi pilihan yang tepat bagi para wakil rakyat maupun pemerintah. Hal ini dikarenakan pada saat pesta
demokrasi (pemilihan) berlangsung cost politik sangatlah tinggi sehingga mau
tidak mau seorang wakil rakyat maunpun
pemerintah harus mengeluarkan ratusan juta bahkan miliaran
rupiah untuk keperluan kampanye,baliho,stiker,bendera partai dan berbagai
bentuk sumbangan lainnya kepada masyarakat.
Berbagai
carapun dilakukan untuk korupsi.
Cara
yang lazim di pilih oleh wakil rakyat maupun pemerintah untuk melakukan korupi adalah mereka
bermain di politik anggaran (banggar) dan main proyek. Dari
ketua partai politik sampai ke
para
pejabat tinggi sudah banyak yang terkena kasus korupsi. Ada yang kena gara-gara suap,gratifikasi dan
bermain di berbagai proyek atau bermain di badan anggaran (banggar). Hal ini sudah tidak menjadi rahasia lagi.
Berbagai media baik cetak maupun media elektronik
setiap hari memeberitakan tindak pidana korupsi. Berita-berita korupsi selalu dominan
di isi oleh para pejabat tinggi negara yang berasal dari partai politik dan
sebagiannya dari kalangan pengusaha dan yang lainnya. Hal ini mengindikasikan
bahwa wabah penyakit korupsi sudah menyebar kemana-kemana dan tidak pandang
bulu. Dengan demikian KPK juga harus benar-benar serius dalam
mengungkap semua kasus tindak pidana korupsi tanpa pandang bulu.
Tindakan-tindakan
diatas terjadi karena “Demokrasi Terpaksa” menjadi pilihan dalam sistem politik
indonesia. Semua
kita sudah sangat pandai mengucapkan bahwa demokrasi adalah dari rakyat,oleh
rakyat dan untuk rakyat. Kata “boleh” dan “dari” sudah di jalankan akan tetapi
yang menjadi pertanyaan besar adalah kata “untuk”. Pembangunan itu “untuk” siapa? Kesejahteraan itu “untuk” siapa? Dan
keadilan itu “untuk” siapa?
Semoga dari tulisan saya ini dapat memberikan
pemahaman dan penyadaran kepada pemangku jabatan dan semua elemen masyarakat
bahwa demokrasi harus memberikan manfaat bagi semua orang tanpa terkecuali. Pemerintah
sudah seharusnya melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai entitas yang di
percayakan oleh masyarakat sebagai agent of rule. Dan masyarakat harus tetap
bersikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam berbangsa dan
bernegara demi mewujudkan demokrasi yang lebih matang.
*Di muat di koran Lombok Post

Tidak ada komentar:
Posting Komentar