Rabu, 20 April 2016

Mendambakan Sosok Kartini Masa Kini


gambar diambil dari google
 
Oleh: Abdurrazak 

“Hari kartini bukan hanya sekedar untuk di peringati. Tetapi yang lebih penting adalah meneruskan cita-cita dan perjuangannya (R.A Kartini)  secara nasional. Sehingga bangsa Indonesia mendambakan sosok kartini masa kini yang  sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang ini".

Rakyat Indonesia memperingati momentum hari kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April. Berbagai cara pun di lakukan oleh warga untuk mengenang sosok pahlawan indonesia yang satu ini. Betapa tidak, sosok kartini merupakan simbol perjuangan bagi kaum perempuan indonesia,khususnya. Dan menjadi inspirasi bagi semua orang dalam memperjuangkan kemerdekaan dari segala aspek kehidupan.

Bukan hal yang baru lagi, bahwa catatan dari seorang Raden Ajeng Kartini yang tidak akan pernah terlupakan oleh rakyat Indonesia adalah “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Namun, dalam tulisan saya ini tidak akan menjelaskan isi dari catatan tersebut, tetapi mengutarakan dengan singkat potret perjuangan Raden Ajeng Kartini. Selanjutnya, penulis tertarik pada sosok atau karakter yang harus dimiliki oleh setiap perempuan sekarang ini, yang kemudian penulis sebut sebagai “Sosok Kartini Masa Kini”. Kenapa? karena menurut hemat penulis, perosoalan dan tantangan bangsa sekarang,besok dan kedepannya lebih berat dibandingan dengan zaman-zaman sebelumnya.

Seperti yang pernah di katakan  jauh sebelumnya oleh sang proklamator Soekarno, bahwa tugas dari generasi bangsa akan jauh  lebih berat setelah kemerdekaan. Karena mereka (para founding fadhers) dan bangsa indonesia secara keseluruhan melawan penjajah yang jelas dan mudah di analisa, tapi sekarang kita berperang melawan bangsa sendiri. Kalau di cermati lebih mendalam dari apa yang pernah di katakan oleh Bung Karno tersebut, benar-benar  mengindikasikan bahwa persoalan dan tantangan bangsa kedepannya jelas lebih kompleks.

Potret Perjuangan Raden Ajeng Kartini
Di bawah tekanan penjajahan Belanda, dimana kondisi sosial masyarakat tempo dulu dapat kita katakan masih awam atau tunduk pada tradisi (adat istiadat) yang belum benar-benar di pahami. Akibatnya, menjadikan seorang perempuan hanya sebagai seorang ibu rumah tangga. Bukan hanya itu, hak-hak perempuan sebagai mahluk social pun sangat terbatas yakni, tidak ada ruang untuk memperoleh  pendidikan, sedikitnya ruang bagi perempuan dalam melakukan segala bentuk aktivitas, dan lebih-lebih dalam soal memih calon suami. Atas dasar itulah, Raden Ajeng Kartini melihat bahwa  keberadaan perempuan selalu dipandang sebelah mata.

Atas dasar itulah,selanjutnya, membuat dirinya tampil menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan segala bentuk diskriminasi antara laki-laki dan perempuan atau yang sering kita dengar dengan istilah “kesetaraan gender” . Salah satu contoh konkrit dari Raden ajeng kartini untuk membuktikan perjuangannya tersebut yakni, mendirikan sekolah gratis di Jepara. Di sekolah gratis inilah Raden Ajeng Kartini memberikan beragam pendidikan yaitu; mulai membaca, menulis, memasak dan menenun pada anak gadis di bawahnya. Selanjutnya, dia juga membentuk pendidikan di cabang Semarang, Surabaya, Yokjakarta, Malang, Cirebo dan beberapa wilayah di Daerah Jawa Tengah.

Selain hal di atas, Raden Ajeng Kartini memiliki cita-cita dan semangat perjuangan yang tinggi dan progresif. Dia memiliki cita-cita ingin membebaskan kaum perempuan dari segala bentuk diskriminasi dan dari segala bentuk penindasan. Selain mendirikan sekolah gratis, dia juga aktif melakukan komunikasi dengan kawan-kawannya yang berada di Belanda. Meskipun hanya berkomunikasi lewat surat.

Pada dasarnya perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak  hanya mengangkat derajat kaum perempuan,tetapi api lebih dari itu. Dalam bukunya yang terpopuler “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Dia juga berbicara persoalan nasional, artinya cara pandang Raden Ajeng Kartini tidak bersifat kedaerahan. Dan bisa kita katakan juga bahwa pendidikan dan output pendidikan yang dibangun menjadi cikal bakal lahirnya persatuan pemuda/pemudi Indonesia, yang kita kenal dengan sebutan sumpah pemuda pada tahun 1928.

Dari uaraian singkat di atas, dapat kita  simpulkan bahwa di bawah tekanan pemerintahan Belanda yang menjajah kaum pribumi pada saat itu, dimana tokoh Raden Ajeng Kartini mampu membentuk dan menggugah semangat pendidikan meskipun dalam tekanan budaya yang masih primitive.  Namun, semangat itulah yang menjadikannya sebagai soko guru ,simbol perjuangan kaum perempuan dan sekaligus pejuang nasional yang harus kita tiru dan budayakan, meskipun dibawah tekanan dan bahkan moncong bedil mengancam.

Harus Ada “Sosok Kartini Masa Kini”. Seperti Apa?
Menurut analisis penulis, ada bebeapa alasan yang kaitannya dengan apa yang pernah di katakana oleh Soekarno yakni, bahwa tugas generasi bangsa akan lebih berat setelah kemerdekaan, yaitu : pertama secara analisa social, penulis dapat  katakana bahwa bangsa Indonesia belum merdeka seutuhnya, karena secara definisi bahwa Negara yang merdeka adalah Negara yang berdaulat secara ekonomi maupun politik. Atau dengan kata lainnya adalah bangsa  itu sendirilah yang menentukan nasibnya sendiri, alias tidak bergantung pada Negara lain baik dalam hal ekonomi maupun politik dan lain-lain. Lebih lanjut, jika di kaji/analisis lebih jauh dari persoalan tersebut, bahwa kita belum merdeka seutuhnya, karena kekayaan  alam kita masih dikuasai oleh Negara asing dan hanya segelintir orang saja.

Kedua, jika kita kaji secara umum dalam hal kebijakan, belum ada satu betuk program pun yanag menyentuh hajat orang banyak. Padahal, telah di tegaskan oleh para  pendiri Negara ini dalam pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesa dalam alenia ke empat  bahwa tujuan di bentuknya Negara Indonesia yaitu :  untuk mencerdaskan kehidupan bangasa, melindungi segenap tumpah darah Indonesia, ikut melaksanakan ketertibaan dunia, serta keadilan social bagi seluruh rakyat indonesa”. Namun, rata-rata kebijakan yang dilahirkan oleh  pemerintah adalah hanya lah menguntungkan para investor.

Ketiga, di tengah maraknya konflik kebijakan dan mandeknya demokrasi yang di tandainya dengan konflik partai politik, rakyat di giurkan dengan semakin maraknya kasus korupsi yang  semakin hari semakin membudaya dan  bahkan mengakar. Selain itu, budaya da karakter bangsa Indonesia semakin terkikis seiring dinamika globalisasi.

Dengan demikian, tepat sekali apa yang dikataan oleh presiden pertama kita bahwa perjuangan generasi bagsa lebih sulit setelah merdeka dari penjajah, karena akan melawan bangsa sendiri. Sehingga dalam posisi Negara yang seperti penulis katan di atas maka  “sosok kartini masa kini” sangat dibutuhkan.  Namun, pertanyaannya adalah seperti apa sosok kartini masa kini yang dibutuhkan oleh bangsa ini? Pertanyaan ini memang sangat berat untuk kita jabarkan. Namun, menurut hemat penulis, dalam kondisi politik, ekonomi, budaya, sosial-kemasyarakatan Indonesia yang penuh dengan carut-marut  sekarang ini , maka sosok Kartini yang cerdas, militan dan merakyat lah yang sekarang ini di butuhkan. Penulis akan menjelaskan ketiganya dengan singkat,lugas dan padat.

Pertama, yang dimkasud cerdas disini adalah mampu menganalisis atau peka terhadap  kondisi bangsa indonesia yang ada (sekarang dan kedepannya). Dengan demikian, akan mampu mengeluarkan segala kebijakan dan keputusan secara mandiri (bukan atas dasar intervensi) yang sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia sekarang,besok dan kedepannya.

Kedua, militan adalah berani tampil sebagai garda terdepan dalam mengimplmentasikan hasil analis,ide/fikiran dan gagasannya yang progres ke panggung publik (sosial) yakni, dalam segala bidang, ruang dan waktu. Bukan sebaliknya memilki karakter dan mental budak di tengah arus globalisasi.

Ketiga, yang dimaksud degan merakyat adalah tentu semua yang dilakukan dan yang di fikirkan berpihak pada kepentingan rakyat (bangsa Indonesia), bukan pada segelintir orang atau golongan. Atau memiliki visi kerakyatan kedepannya dan bersikap kenegarawanan. Dengan demikian, bangsa Indonesia memiliki generasi yang jujur dan memilki rasa kepedulian social yang tinggi, bukan generasi yang individulis, kerdil dan berambisi kekuasaan.

Akhirnya, penulis ingin mengatakan bahwa, hari kartini bukan hanya sekadar untuk di peringati. Tetapi yang lebih penting adalah meneruskan cita-cita dan perjuangannya (R.A Kartini) secara nasional. Sehingga bangsa Indonesia mendambakan sosok kartini masa kini yang  sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang ini. Oleh karena itu, menurut analisa penulis, sosok kartini masa kini yang ; cerdas,militan dan merakyat lah yang di butuhkan oleh bangsa Indonesia. Mudah-mudahan !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar