Senin, 21 April 2014

Adat Sumbawa

PAMULUNG DESA BUDAYA


    
 Disebut Desa Budaya karena Pemulung adalah gudang tradisi budaya dan kesenian budaya Sumbawa. Pemulung sesungguhnya hanyalah sebuah dusun dalam wilayah Karang Dima dengan Keragaman Tradisi yang menyihir. Disini kita akan menjadi saksi betapa kearifan lokal magis masih kental di tanah Samawa. Sandro adalah sebutan untuk seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang akan menancapkan sakak. Sakak adalah sebutan untuk sebilah tongkat tujuan finish Barapan Kebo.







Sebuah pertunjukan yang terjadwal saat tiba musim tanam - pada bulan Januari atau Februari - yang menghenyakkan, saat sepasang kerbau - yang dikendalikan seorang joki yang juga diback- up pula oleh seorang Sandro yang lain -  berlari kencang menuju saka, kemudian menyimpang tak berdaya oleh kesaktian Sang Sandro Sakak yang terus- menerus menanamkan "mantera pengalih" pada kerbau dan joki agar tak mampu mencapai sakak (tongkat finish). Disinilah kemudian Sang Sandro mengalunkan kemenangannya dalam syair sesumbar khas Sandro Tau Samawa. Barapan Kebo, bukanlah kerbau adu cepat, melainkan ajang para Sandro adu mantera.







     Tradisi kesenian lain yang menarik adalah Barempuk atau tinju bebas ala sumbawa, Karaci (pertarungan menggunakan stik rotan besar), Barukuk (Gulat Tradisional Sumbawa), tari-tarian dan musik khas Sumbawa serta prosesi adat perkawinan ala Sumbawa yang unik. Dusun Pemulung juga dikenal dengan penghasil tenun tradisional Sumbawa.

Gunting Bulu sendiri adalah tradisi menggunting rambut seorang anak untuk pertama kalinya dengan diiringi pembacaan ayat-ayat suci Al Qur'an dan Kitab Barzanji. Setelah prosesi ini selesai barulah si anak boleh di gunting rambutnya untuk seterusnya. 

Turin Tana' adalah semacam tradisi ketika seorang bayi untuk pertama kalinya boleh menginjak tanah. Tradisi ini adalah semacam gerbang awal si anak untuk memulai menapakkan kakinya di permukaan tanah diiringi doa-doa dan proses adat Sumbawa. 
Sedangkan Tama Lamung adalah tradisi memakaikan Lamung Pene (Baju adat Sumbawa) kepada anak perempuan dimana bajunya berjumlah tujuh buah dengan warna yang berbeda-beda. Acara ini cukup membuat Quin kegerahan, bosan dan akhirnya menangis. Mungkin karena ia kagok melihat begitu banyak tamu yang hadir dan menyaksikan acara ini.
Ini adalah beberapa foto Quin dan Lamung Pene-nya


Di berbagai daerah di Indonesia,tentunya memiliki adat-istiadat tersendiri dalam melaksanakan prosesi perkawinan. Demikian pula halnya di Sumbawa.
Dari sekian rentetan adat perkawinan Sumbawa,yang saya coba share kali ini adalah adat Nyorong dan Barodak.
Buat anda yang bukan orang Sumbawa,tentu tidak ada salahnya jika membaca postingan ini. Siapa tahu suatu saat anda kecantol gadis Sumbawa dan berniat meminangnya...?
NYORONMG.gif* Nyorong
Nyorong merupakan sebuah upacara adat dimana pihak keluarga calon pengantin laki-laki datang dengan rombongan yang cukup besar untuk menyerahkan bawaan kepada pihak keluarga calonn pengantin wanita.
Upacara ini biasanya diiringi dengan kesenian Ratib Rebana Ode. Di pihak wanita telah menanti juga dalam jumlah yang cukup besar, wakil-wakil dari pihak keluarga dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Setelah diawali dengan basa- basi dalam acara berbalas pantun, maka barang-barang bawaanpun diserahkan.
P4100906.JPG* Barodak
Barodak adalah adat – istiadat daerah sumbawa berupa luluran yang menggunakan seme’ (masker) kepada kedua mempelai yang dilakukan pada saat sebelum dilaksanakan akad nikah ataupun sebelum resepsi pernikahan. Adapun yang akan melakukan barodak tersebut harus terlebih dahulu dimandikan oleh sesepuh, tokoh – tokoh adat terutama kaum perempuan karena adat Barodak ini sebagian besar diikuti oleh para ibu – ibu. Pada saat pelaksanaan Barodak tersebut satu persatu ibu – ibu atau tokoh adat yang ditunjuk akan melakukan pekerjaannya yaitu mengusap dan mengoles odak ( bahan masker ) ke wajah dan lengan kedua mempelai, setelah itu barulah diberi pancar di jari kuku tangan mempelai tersebut.
Disaat kegiatan barodak berlangsung para bapak – bapak biasanya melakukan adat “Bagenang” untuk memberi kemeriahan ataupun syarat dari adat Barodak tersebut. Sedangkan Bagenang itu sendiri biasanya dilakukan oleh lebih dari tiga orang, ada yang memukul gendang dua orang, yang memukul gong satu orang dan yang meniup serunai (seruling ). __

Tidak ada komentar:

Posting Komentar