1. TUGU KHATULISTIWA
Sekitar lima kilometer sebelah utara
dari pusat Kota Pontianak, dapat ditemukan sebuah tanda
garisKhatulistiwa yang membagi bumi menjadi dua bagian. Tempat ini
ditanda oleh sebuah tugu ataupun monumen yang ditemukan pada tahun 1928
oleh sebuah Ekspedisi Astronomi Belanda. Pada tahun 1938 atau tepatnya
sepuluh tahun kemudian, “Tugu Khatulistiwa” direnovasi dan dikembangkan
kembali oleh seorang Arsitek Indonesia yang bernama Sylaban.
Kejadian alam yang unik dimana posisi
titik perpotongan antara pusat matahari dengan garis Khatulistiwa berada
pada 109o 201 00” bujur timur atau disebut kulminasi, terjadi pada
setiap tanggal 21-23 Maret dan September menjelang tengah hari. Pada
saat itu semua benda yang berada disekitar tugu tidak memiliki bayangan.
Puncak peristiwa kulminasi matahari ini dapat disaksikan hanya sekitar
5-10 menit. Sembari menunggu peristiwa kulminasi, di kawasan tugu
khatulistiwa Pontianak diadakan serangkaian acara kesenian tradisional
yang dihadiri oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
2. KERATON KADRIAH
Keraton Kadariah Pontianak adalah pusat
Pemerintahan Pontianak tempo dulu, struktur bangunan dari kayu yang
kokoh, didirikan oleh Sultan Syarief Abdurrahman Alqadrie pada tahun
1771. Keraton ini memberikan daya tarik khusus bagi para pengunjung
dengan banyaknya artefak atau benda-benda bersejarah seperti beragam
perhiasan yang digunakan secara turun temurun sejak jaman dahulu.
Disamping itu, koleksi tahta, meriam, benda-benda kuno, barang pecah
belah dan foto keluarga yang telah mulai pudar, menggambarkan kehidupan
masa lalu.
Terdapat mimbar yang terbuat dari kayu,
serta ada pula cermin antik dari perancis yang berada di aula utama yang
oleh masyarakat setempat sering disebut “kaca seribu”. Sultan juga
meninggalkan harta-harta pusaka dan benda-benda warisan lainnya kepada
anggota keluarga yang masih ada, untuk dipelihara dan dirawat. Keraton
kadariah yang berada di daerah kampung dalam bugis, kecamatan Pontianak
Timur ini, dapat di capai dalam waktu kurang lebih 15 menit dari pusat
Kota Pontianak.
3. MAKAM KESULTANAN PONTIANAK BATU LAYANG
Makam batu layang biasa di sebut dengan
Taman Makam dari Kerajaan Pontianak, mulai dari Raja pertama (Sultan
Syarif Abdurrahman Al-Qadrie) hingga raja terakhir (Sultan Hamid II)
serta beberapa keluarga raja. Tempat ini biasanya ramai di kunjungi,
khususnya pada hari besar islam. Taman Makam ini terletak kurang lebih 2
Km dari Tugu Khatulistiwa yang dapat dikunjungi dengan menggunakan
transportasi darat maupun transportasi air (sampan).
4. MASJID JAMI PONTIANAK
Masjid Jami’ adalah salah satu masjid
besar peninggalan masa kesultanan Pontianak. Lokasinya berada di
pinggiran sungai yang indah dan masih asli, walaupun struktur dari
masjid Jami’ tersebut telah mengalami rekonstruksi. Setiap jum’at
siang, kayu belian yang masih ada di dalam masjid turut bergema oleh
suara adzan. Selama hari raya islam, masjid ini menjadi pusat beribadah
bagi masyarakat dan warga sekitar yang memperingatinya. Masjid Jami’
dapat di jangkau dengan menggunakan sampan dari pelabuhan Seng Hie atau
dengan mobil melewati jembatan kapuas.
5. ALOE VERA CENTER
Aloe vera Center terletak di Jalan Budi
Utomo Pontianak. Pertama kali didirikan pada tahun 2002 dan
dibudidayakan pada tahun 1990. Di Aloe Vera Center kita dapat melihat
tanaman aloevera dibuat menjadi tepung dan berbagai jenis makanan
seperti dodol, kerupuk dan minuman. Tanaman Aloevera berasal dari
Kapulauan Canary, Afrika Utara. Di Yunani pada tahun 333 SM Aloevera
dikenal sebagai tanaman yang dapat mengobati berbagai jenis penyakit,
sedangkan di negeri Cina sebagai tanaman suci. Pada lokasi Aloe Vera
Center terdapat juga Orchid Center yaitu pusat pembudidayaan berbagai
macam anggrek, termasuk anggrek hitam, jenis anggrek khas Kalimantan
yang kini sudah mulai langka.
6. TAMAN ALUN KAPUAS
Taman rekreasi ini terletak di jalan Rahadi Usman, tepatnya di depan kantor Walikota Pontianak. Taman alun kapuas dengan water front city
nya merupakan tempat yang indah dan nyaman untuk bersantai sambil
menikmati pemandangan sungai kapuas. Sebagaimana kota yang berada dekat
dengan sungai yang merupakan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak,
ferry atau sampan merupakan alat angkutan yang menjembatani pusat kota
dengan pinggiran kawasan Siantan dan Kampung Beting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar